Untuk anda yang ingin mengetahui prosedur produksi secara lebih terperinci!

Teori pembuatan Kompos
Proses pembuatan kompos terjadi melalui interaksi antara mikroorganisme dengan bahan organik serta dengan kehadiran oksigen dan air. Proses pengomposan merupakan suatu proses aerob yang berarti hanya bisa berlangsung selama asupan oksigen mencukupi. Jika lapisan bahan organik lebih tebal daripada kurang lebih 60 cm, maka proses dekomposisi yang terjadi berubah drastis menjadi anaerob (tanpa oksigen).
Kriteria untuk mempertahankan proses pengomposan tetap aerob adalah menjaga kandungan oksigen minimal 6% dan kandungan air 40-60%. Jika kandungan oksigen <6% dan kandungan air >60% maka proses berubah menjadi anaerob, sedangkan jika kandungan air <40%, aktivitas mikroorganisme berhenti.
Selama proses pengomposan, 65% bahan organik terurai oleh mikroorganisme. Glukosa (C 6 H 12 O 6 ) adalah senyawa yang biasa digunakan sebagai model proses dekomposisi oleh mikroorganisme melalui reaksi berikut :
C 6 H 12 O 6 + 6 O 2 -> 6 CO 2 + 6 H 2 0
Produk berupa karbondioksida dan air.
The remaining 35 % of the organic material is not digested and results in compost. With the help of oxygen, microbes produce first highly soluble and colored fulvic and humic acids that react later to less soluble humic compounds, the basis of humus.
Jika proses yang terjadi secara anaerob, maka reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
C 6 H 12 O 6 à 3 CO 2 + 3 CH 4
Produk berupa karbondioksida dan metana.
Menghindari proses pembentukan gas metana yang 21 hingga 23 kali lebih kuat sebagai gas rumah kaca daripada karbondioksida, membuat proses pengomposan diakui sebagai Clean Development Mechanism (CDM).
Penelitian Teknologi Pengomposan
Seperti yang dijelaskan di atas, aerasi pada proses pengomposan hanya bisa terjadi pada lapisan bahan organik kurang dari 60 cm. Aerasi pasif ini didorong oleh konveksi panas dan disosiasi oksigen. Oleh karena itu, aerasi pasif semacam itu tidak cocok untuk digunakan pada pengomposan dengan tumpukan tinggi. Maka, fasilitas pengolahan sampah Gianyar memutuskan menggunakan proses aerasi paksa dimana udara dihembuskan kedalam tumpukan material melalui bantuan blower dan pipa yang sudah dilubangi.
Biasanya kompos diproduksi dengan cara membuat timbunan bahan organik yang relatif rendah, sempit, dan panjang (disebut dengan windrows ) sehingga memiliki permukaan kontak dengan udara yang luas dan mendorong terjadinya aerasi pasif. Proses ini merupakan proses reaksi partaian diskontinyu. Dengan cara ini, timbunan bahan organik harus dibalik setiap minggu untuk pengairan dan pengadukan, maka membutuhkan ruang yang banyak. Untuk melindungi timbunan ini dari hujan deras yang sering terjadi di Indonesia , perlu suatu atap atau tutup semipermeabel, keduanya sangat mahal. Pada proyek pengolahan sampah Gianyar telah diinvestasikan waktu dan biaya untuk memikirkan suatu proses semi-kontinyu yang efisien.
Untuk memperbaiki teknologi pengomposan, sejak tahun 2004 Proyek pengolahan sampah Gianyar telah fokus pada topik-topik berikut :
• Ukuran dan bentuk timbunan agar efisien
• Sistem aerasi paksa yang optimal untuk meminimalisasi biaya operasi
• Kontrol kelembaban sehingga mengurangi jumlah balikan timbunan
• Mengurangi lama produksi sehingga bisa memperbesar kapasitas
Penelitian berlanjut menghasilkan sistem pengomposan table yang dibahas berikut ini.
Teknologi Pengomposan Tabel
Tantangan proyek ini adalah untuk mengolah 42.5 ton/hari bahan organik menjadi kompos berkualitas tinggi. Pengomposan dengan aerasi dapat dilakukan dengan menghembuskan udara pada penimbunan bahan mentah dengan windrows atau sistem tumpukan table dimana timbunan bahan mentah dibuat sedemikian rupa sehingga terhampar luas seperti membentuk persegi panjang. Dengan cara windrows , area kerja yang dibutuhkan banyak serta udara yang dihembuskan ke dalam bahan organik hanya bergerak dalam 2 dimensi. Pada sistem windrows semacam ini, suplai dan kecepatan udara berkurang 20 kali setiap m pipa. Dengan cara table , area kerja yang dibutuhkan lebih sedikit dan memiliki aliran udara laminar 3 dimensi , menghasilkan kondisi tumpukan bahan yang lebih homogen. Di Gianyar, timbunan kompos adalah setinggi 3-4 m, lebar 30m, dan panjang 60 m.
Pengomposan sistem table juga memiliki keuntungan karena prosesnya yang bersifat semi-kontinyu sedangkan sistem windrows berjalan dalam proses partaian ( batch ). Dengan membalikkan timbunan bahan kompos secara rutin, bahan organik dipindahkan dari satu ujung dimana bahan mentah masuk melewati shredder hingga ke ujung lainnya dimana kompos matang siap diambil. Setelah melakukan evaluasi, pihak proyek memutuskan untuk menggunakan sistem table berdasarkan efisiensi lahan, biaya investasi, dan biaya operasi.
|